Alfarish Was Here

Alfarish Was Here | Salman Alfarish
Kadang kala jejak kaki yang telah menancapkankan bentuknya ditanah bisa dengan mudah di hapus oleh hembusan angin musim panas. Sebuah jejak yang meninggalkan bekas menjadi saksi bisu kehadiran anak manusia di setiap sudut jagat raya ini. Sebuah tanda tanya di depan tulisan berdebu yang samar sama terbaca "Alfarish was Here"

Ketika hembusan angin panas menerpa wajah sang legenda, mengalun sendu sayup sayup di keheningan jingga malam. Hujan tak pernah menampakkan senyumnya yang bisa mendinginkan suasana yang hangat, memecahkan segala amarah sang mentari, membersihkan peluh yang telah mencacar. 

Setetes nanah memberikan rasa perih di luka yang tak kunjung kering. Mengalirkan nyeri yang bersangatan di setiap nadi hingga ke otak, membelah kepedihan yang membeku.

Cawan cawan kotor bertebaran di bawah meja reyot, menebarkan bau pekat di udara yang penuh lalat. Bubuk kopi berhamburan di setiap sudut, dinding hitam, berlubang membuat sesak di dalam rongga paru paru. Di sudut ruangan yang gelap terdengar lolongan anjing hutan yang meluluhlantakkan perasaan, di dinding yang retak terlihat tulisan yang memudar di makan usia, alfarish was here.

Copyright © 2013 Salman Alfarish