Cerita Kala Hujan di Warung Kopi

Cerita Kala Hujan Warung Kopi | Salman Alfarish
Hujan sudah dari tadi pagi membasahi bumi, bau tanah yang biasanya tercium wangi waktu hujan sudah tidak lagi mengeluarkan semerbak pesonanya. Kenderaan roda empat lalu lalang di jalan, roda dua ditutupi baju hujan atau pengendaranya cuma menutupnya dengan jaket anti air.

Di warung kopi ini juga semakin banyak orang yang singgah, orangnya juga bermacam macam, ada yang memakai baju dinas PNS, badge Bank, ada pula bajunya yang bertuliskan salah satu dialer mobil. 

Orang silih berganti, ada yang masuk ada yang keluar, semerbak harum kopi semakin menyengat, dan hujan masih saja menurunkan air yang semakin membuat basah.

Suara Judika di speaker warung dengan tembang Mapala membuat suasana semakin terasa nyaman. Tak terasa sudah belasan lagu yang berlalu, aku disini masih dengan ketikan dan ketikan yang tiada arti.

Rombongan PNS kembali memenuhi meja disamping, dengan suara yang terbahak bahak mereka dengan tanpa memperdulikan pekerjaan yang ditinggalkan di kantor dengan sangat tanpa bersalah memenuhi warung kopi, dan dengan perasaan bangga memakai baju coklatnya mulai memesan dengan jumlah yang sangat banyak. 

Tapi aku tidak mau memperdulikan mereka, aku masih dengan ketikan ketikan di keyboard laptopku, mencari sedolar demi sedolar, dengan bermodalkan laptop usang dan koneksi jaringan internet warung kopi.

Hujan semakin deras dan inilah aku masih disini menanti, bukan menanti hujan reda, tapi menanti waktu pay out, pay out yang artinya gaji, gaji yang artinya kehidupan.


Copyright © 2013 Salman Alfarish