Secangkir Kopi dan Secawan Luka

Secangkir Kopi dan Secawan Luka
Memandang gerimis membasuh tanah yang berdebu, suasana jingga menari nari bersama dengan hitamnya awan. Sang burung mencari tempat berteduh, dari rembesan rembesan air yang memilukan jiwa.

Rasa dingin membuatku sulit untuk bernafas, secangkir kopi murah dengan racikan yang pas pasan malah membuat suasana semakin membeku. Anak anak setengah telanjang dengan badan yang tertutup air meliuk liuk di tanah becek.

Secangkir kopi berampas ini makin menambah luka yang ada, teriris dan bernanah. Bau rokok kretek memenuhi rungan sempit ini, dadaku semakin sesak dan kesadaranku pelan pelan menghilang, yang terlihat cuma gambar gambar suram yang samar samar.

Kilat menyambar dan petir menggelegar membuat anak anak berlari ketautan, mencari perlindungan di bawah atap toko yang basah. Hujan Semakin deras dan kepalaku semakin berat meninggalkan kesadaranku, aku melangkah meninggalkan warung kopi reyot yang sudah kududuki selama 3 jam. Pandanganku semakin kabur, aku terhuyung huyung di bawah derasnya hujan, sampai kesadaran itu perlahan lahan meninggalkanku.

Copyright © 2013 Salman Alfarish